Penciptaan Adam (Kritisi terhadap buku Ust. Agus Mustofa, Ternyata Akhirat Tidak Kekal)
Ditulis oleh aricloud di/pada Juni 2, 2007
Menarik sekali membaca buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” Karya Ust. Agus Mustofa
Pun demikian ada beberapa hal yang perlu dikritisi terkait pemikiran beliau
Posting ini saya rekam kembali dari pendapat saya di blog salah seorang al akh kita, bukan bermaksud untuk copy paste, namun merekam pendapat yang menurut saya penting.
PERTAMA.
Menurut saya, Agus Mustofa dalam bukunya “Ternyata akhirat tidak kekal” agak memaksakan tafsir terutama pada Surat Al A’raf :189 :
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami teramasuk orang-orang yang bersyukur”. (Al A’raf :189)
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu…
Kalau kata ‘kamu’ yang dimaksud pada ayat ini adalah nabi adam as, maka bisa jadi penafsiran bahwa Adam dan Hawa dilahirkan dari rahim yang sama (diri yang satu) adalah benar. (hLmN 24, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Agus Mustofa)
Namun coba telusuri kembali ayat sebelumnya 188 :
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al A’raf :18
Jelas sekali bahwa yang diajak berbicara (kata ‘kamu’ pada ayat 189) adalah Nabi Muhammad SAW, bukan nabi Adam as.
Sehingga makana ‘Diri yang satu’ adalah Nabi Adam, bukan rahim makhluk lain seperti digambarkan Ust.Agus Mustofa.
“…dan dari padanya Dia menciptakan istrinya..”
dari padanya ini jelas sekali insya Allah maksudnya “dari nabi adam” Dia menciptakan istrinya. sehingga Siti Hawa memang benar-benar diciptakan dari Nabi Adam as. wallahu ‘alam bagaimana caranya.
KEDUA
Apakah syurga yang dimaksud sebagai tempat tiggal Adam dan Hawa adalah dibumi juga seperti yang digambarkan Ust Agus Mustofa.
Mari kita review kembali QS. Al A’raf 11-25:
11. Sesungguhnya kami Telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.
15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”
16. Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.
19. (dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”
20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,
22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”
23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
24. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang Telah ditentukan”.
25. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. Al A’raf 11-25)
Dialog yang terjadi pada ayat-ayat diatas, sebagaimana dalam kaidah tafsir : apabila tiada penjelasan pada ayat lain yang berbeda, maka kita harus meyakini dialog tersebut terjadi apa adanya seperti dikisahkan Al Qur’an. (Ayat yang mirip pada Al Hijr :26-44).
Artinya telah benar-benar terjadi dialog antara Allah, Malaikat, Iblis dan Adam. Dialog seperti ini hampir mustahil terjadi di bumi atau alam nyata. Dikisahkan dialog tersebut terjadi di Syurga (lihat ayat 13), yang tentunya termasuk alam ghaib (terlepas dari definisi ghaibmu dan ghaibku ala ust. Agus Mustofa).
Lihat ayat 19 - 25
Allah dengan sangat tegas membedakan bahasa Syurga (Jannah) dan bumi (Al Ard)
Ust. Agus Mustofa menafsirkan ayat tidak komprehensif, melainkan sepotong-sepotong.
Seperti pada ayat 25 (QS Al A’raf):
“Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.”
Beliau menafsirkan bahwa kata ‘kamu’ atau Adam as pada ayat tersebut hidup, mati dan dibangkitkan kembali di bumi. sehingga Syurga yang dimaksud sebagai tempat tinggal adam as pertama kali adalah dibumi juga (halaman 12. Ternyata Akhirat Tidak Kekal).
Namun barangkali beliau lupa, bahwa Allah SWT mengatakan demikian pada Adam as setelah Adam diturunkan dari syurga, bukan saat adam masih berada di syurga. (lihat ayat 19 - 25)
KETIGA
Penafsiran Ust. Agus Mustofa terhadap ayat QS Al Baqarah : 30 :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(hlmn 16-17, Ternyata Akhirat Tidak Kekal) Agus Mustofa menyatakan sependapat dengan Prof. A. Baiquni bahwa malaikat mengetahui bahwa khalifah itu akan membuat kerusakan karena memang sebelumnya sudah ada yang seperti manusia (hanya mirip).
Barangkali Ust. Agus Mustofa tidak mempertimbangkan bahwa seluruh kejadian alam semesta sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz. Kitab ini tentu saja gaib bagi manusia namun belum tentu segaib malaikat seperti yang dijelaskan Ust. Agus Mustofa sendiri bahwa keghaiban itu relatif.
Jangankan malaikat, Jin saja kadangkala mampu mendapat informasi tentang masa depan.
Lihat QS. Al Jin: 8-9:
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”
Juga perhatikan Hadits dari Shahih Bukhari :
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Alloh menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: “Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?”Mereka menjawab: “(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Ketika itulah, (syaitan-syaitan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya– maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala syaitan penyadap berita itu terkena syihab (panah api) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: “Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)”, sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari Iangit. (HR. Al Bukhori).
Sehingga amat masuk akal bahwa Malaikat yang lebih taat pada Allah 100% mengetahui sebagian berita2 ghaib tentang masa depan dari Allah SWT sendiri. Sehingga pertanyaan Malaikat tentang :
“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,…”
Bukan karena kejadian perusakan dimaksud malaikat pernah terjadi, namun lebih pada Malaikat mengetahui beberapa kejadian tentang manusia di masa yang akan datang. Mengapa Malaikat mengetahui beberapa kejadian di masa yang akan datang?
tentu saja karena tugas2 malaikat terhadap manusia mulai dari mencatat perbuatan hingga meniup sangkakala yang memungkinkan Malaikat sudah mendapat S.O.P nya dari Allah swt.
Terlepas dari itu semua, Ust. Agus Mustofa merupakan ulama dan ilmuan cerdas yang buku-bukunya sangat menarik untuk dibaca, namun juga tidak berarti lepas dari kesalahan.
Wallahu ‘Alam bish showab
ref : Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir
Juni 5, 2007 pada 12:50 pm
Trus intinya akhirat tuh kekal gak mas?
Juni 16, 2007 pada 4:12 am
Semua terserah pada diri kita masing-masing karena kita telah diberi
Kelebihan berupa akal pikiran. Kenapa tidak engkau pergunakan untuk memilih dan memilah? Semua manusia boleh berpendapat sesuai dengan kemampuan dan fitrahnya. Semoga sedikit kata-kata ini memampukan kita untuk berpikir jernih, amien…amien…ya rRobbal Allamin
Juni 16, 2007 pada 4:13 am
Semua terserah pada diri kita masing-masing karena kita telah diberi
Kelebihan berupa akal pikiran. Kenapa tidak engkau pergunakan untuk memilih dan memilah? Semua manusia boleh berpendapat sesuai dengan kemampuan dan fitrahnya. Semoga sedikit kata-kata ini memampukan kita untuk berpikir jernih, amien…amien…ya Robbal Allamin
Juni 18, 2007 pada 9:16 am
Materi qur-an ternyata tidak bisa begitu saja di-ilmiah-kan sesuai dengan (background) jalur pendidikan Agus Mustofa, dan bahkan jika diteruskan kepada khalayak yg belum tahu apa-2 akan memperburuk pemahaman mereka terhadap islam tentunya, bagaimana kalau buku-2 yg diterbitkan harus diseleksi terlebih dulu oleh lembaga yg berwenang, semisal MUI (tentu dengan kualitas agama yg harus bagus) baru kemudian bisa beredar di masyarakat ??? bisa ngga ya … ?
Juni 19, 2007 pada 4:46 pm
Penyeleksian melalui MUI saat ini sangat tidak memungkinkan, mengingat MUI bukan lembaga pemerintahan atau lembaga yang ditunjuk pemerintah yang memiliki kuasa untuk itu.
Yang bisa dilakukan hanya membuat sebuah tekanan pada pemerintah terhadap buku atau produk tertentu yang dinilai meresahkan masyarakat.
Namun menurut saya buku2 Ust. Agus Mustopha belum dapat dikategorikan “berbahaya” namun justru bisa menjadi alternatif pencerahan dari cara berfikir yang berbeda, walaupun tidak serta merta kita sepakati pendapatnya
Allahu’alam.
Juni 19, 2007 pada 4:57 pm
Saya gak ngerti dengan postingan ini, mungkin karena lom baca buku pak agus mustopa,
Tapi penyeleksian buku-buku menurut saya gak mungkin dilakukan,
Coba bayangin berapa banyak buku yang diterbitkan?
lagian majalah2 porno aja susah untuk diberantas dari dulu, apalagi buku?
Juli 4, 2007 pada 10:12 am
Assalamualaikum wr wb..
Bapak / Ibu, sekarang sudah kami sediakan forum bagi pembaca buku-buku dari Agus Mustofa dan Taufik Djafri di website kami http://www.padmapress.com
Anda bisa langsung masuk ke forumnya :
http://www.padmapress.com/forum.htm
disana anda bisa berdiskusi mengenai semua hal yang berhubungan dengan buku-buku Agus Mustofa dan topik lainnya..
kami tunggu kehadiran anda disana..
Wassalamualaikum wr wb..
Oki PADMA press
Juli 6, 2007 pada 3:01 pm
saya sempat baca.. cuman ga diterusin.. ga semenarik yang saya duga.. :p
kesalahan saya.. “menduga-duga” hihihi
Juli 12, 2007 pada 10:38 am
Penciptaan Adam memang polemik, namun tidak perlu dilakukan koreksi oleh MUI atau sejenisnya. Di alam keterbukaan maka koreksi berlangsung secara “alamiah” menjadi ajang diskusi dan peningkatan wawasan. Berbeda dengan pada sebuah kondisi tertutup yang membuat sebuah klaim hanya kebenaran sendiri. Terbukanya peluang ini, membuat kita bisa lebih matang. Yang mengkritisi dan dikritisi, pada tingkatan tertentu juga keduanya belum tentu benar. Jadi, kehadiran buku ini, menurut saya sisi positifnya juga tidak sedikit.
Kalau contoh lain, kita membawa bunga, ruangan menjadi harum. Kalau ada asap yang membuat sesak nafas, maka kita tahu bahwa hutan kita tidak dijaga, jadi ada usaha positif untuk merestorasinya….
Begitu juga dalam dunia idea….
Juli 16, 2007 pada 8:55 pm
aku adalah pengagum tulisan agus mustofa. banyak hal yang dapat diungkapakan secara ilmiah yang kadang membuat kita bertanya saat mendengar judulnya. “Ternyata akhirat tidak kekal” ada sedikit pertanyaan wah ini mengada-ada. tapi setelah aku baca bukunya ternyata ada benarnya. tapi kita harus juga baca bukunya yang lain yang juga mendukung teori ini.
Sifat Allah adalah baqa ( Kekal ) dan sifat mahluk adalah rusak. kemudian pengertian mahluk adalah segala yang dicipatakan oleh Allah. dan akhirat(Bisa diartikan surga/neraka) adalah termasuk mahluk karena diciptakan oleh Allah jadi sifatnya tidak kekal. akhirat akan kekal jika Allah tetap mempertahankannya karena Allah lah yang maha kekal.(Hak prerogatif allah) karena dia lah Allah yang maha kekal.
karena pada saat hari kiamat maka akan binasa semua termasuk malaikat izrail ( Peniup sangkala) yang kemudian dihidupkan oleh Allah kembali. yang menandakan kebesaran Allah dialah rabb yang berhak disembah.
jadi maksudnya akhirat tidak kekal adalah karena dia termasuk mahluk Allah. dan yang maha kekal hanyalah Allah SWT.
terimakasih. mungkin kalo ada salah dalam penjelasan silahkan dikritik semoga bermanfaat……..
Juli 23, 2007 pada 11:11 am
Mas Aricloud, wss.wr.wb…
Maaf sy ikutan komentar di blog Mas untuk topik yang hampir sama ya :”Adam Dilahirkan itu”…
Saya baca komentar mas perihal 2 kelompok… tapi saya bukan pada kelompok di situ lho dari segi pemikiran. Karena saya lebih memahami Adam diciptakan, bleg begitu saja, dan rujukannya hanya Al Qur’an.
Jadi saya kelompok satu untuk menyatakan Adam diciptakan (tidak pakai mahluk hidup jenis lain), lalu rujukan juga hanya al Qur’an saja.
Oh ya… hampir semua postingan sy hanya ke Al Qur’an, kecuali pada pendekatan ahlak dan ibadah formal, baru merujuk ke hadis (tapi ini jarang, karena kesesuaian fokus dari tema blog).
Jadi, sy kelompok 3 ya…
Namun, apapun kelompoknya… kita sama… mengagumi dan belajar dari firmanNya. Semoga karenanya, kita masuk golongan kanan……
Wss.
Juli 23, 2007 pada 12:10 pm
Amin..
he..he..
Gapapa mas agor..
Itu adalah bukti keterbatasan saya dalam menyimpulkan
Juli 31, 2007 pada 2:19 pm
Yah, asal tidak keluar dari mainstream saja. Toh pemikiran seperti itu mesti dikritisi lebih lanjut dan tidak ber-implikasi terhadp aspek2 lain. Jangan ada perdebatan panjang saja, krena itu cma buang2 waktu. Inget lho, waktu amat mahal–he he, itu mh nenek2 jg tau ya…
Agustus 2, 2007 pada 4:37 am
Betul, namun mengkritisi pemikiran seseorang juga perlu dimulai dengan keterbukaan hati dan akal yang lapang. bukan didahului oleh sikap antipati terhadap orang maupun kesimpulannya. Walaupun saya lebih bersikap mengkritik, namun saya sedapat mungkin menghindari sikap antipati berlebihan.
Agustus 8, 2007 pada 2:21 am
Maaf mas buku pak Agus memang menarik, coba juga lihat buku terbarunya “ternyata Adam dilahirkan”, cukup menarik cara dia membaca ayat2 quran. Menurut saya pendekatan pak Agus malah memperkuat keimanan saya soal Adam dan segalanya tentang alQuran. Tapi saya tidak bilang dia paling benar, saya hanya melihat uniknyanya dia “membaca” alquran.
Agustus 11, 2007 pada 1:54 pm
Sorry, bisa gak download isi buku Ternyata Akhirat tidak Kekal dari sini
Agustus 11, 2007 pada 2:05 pm
Komen sedikit yach, Opini Ust. Agus M Tentang penciptaan Adam sepertinya bertolak belakang dengan pandangan Harun Yahya, dalam hal ini ust. Agus M nampak masih percaya dengan teori Darwin tentang evolusi. Tolong rechek ulang p. Ust. Agus…., but saya salut dengan pandangan beliau tentang konsep waktu dan dimensi ruang. Thank.
Agustus 13, 2007 pada 8:40 am
Harun yahya dan Agus Mustopha masing-masing memiliki pendapat dan cara analisis yang berbeda. Harun Yahya cenderung lebih populer dalam analisisnya dengan bukti-bukti yang ada di depan mata, sedangkan Agus Mustopha cenderung sedikit kontroversial namun konstruktif.
Agustus 14, 2007 pada 3:11 am
Diskusi ini sangat menarik. Buat saya selama kita membaca buku tidak membuat kita menjadi musyrik tidak apa-apa. Bahkan boleh-2 aja kita bandingkan dengan buku lain. Buat saya buku pak Agus Mustofa memberikan gambaran baru tentang kita memahami Kebesaran Allah. Salut buat pak Agus yang dibuku-2nya selalu menulis ilmu kita tidak ada apa-2 nya di bandingkan dengan ilmu Allah. Memang penafsiran orang bisa beda-2. Bagus ada buku yang membuka cakrawala kita, bahwa kita dikasi akal untuk mempelajari kitab suci kita. Bukan hanya percaya kata “orang” yang kita anggap lebih pintar dari kita.
Wassalam
Agustus 15, 2007 pada 6:42 am
Assallamm…lepas dari semua kontroversi yg ada…kita jadikan semua sebagai kekuatan dan keyakinan serta Keimanan Islam kita…Wass
Agustus 16, 2007 pada 3:07 am
saya akan coba banyak belajar lagi tentang al-quran, saya berpendapat pemikiran ust agus mustopa ini cukup membuka mata kita agar akal kita bisa mengalahkan nafsu,
Agustus 16, 2007 pada 6:30 am
betul broo, ukhuwah tetap kita jaga, diskusi apapun boleh…..
Mnrt saya asal kita gak jadi musryik tapi malah semakin pengen dekat dengan Allah, setelah baca buku apapun itu hal yang baik.
Kita tidak bisa memvonis, salah atau benar kepada pendapat orang lain karena ada pendapat lainnya.
Kebenaran hanya milik Allah SWT
Wassalam
Agustus 28, 2007 pada 8:39 pm
Ya, udah
ukhuwah tetap dijaga
saya cuma kasih komentar
1. Silahkan kita berpendapat dengan argumen kita, tapi yang salah harus dikoreksi dengan argumane dan dalil yang tepat
2. Kita bebas berbuat dan berkeyakinan, tapi ingat semua ada konsekuaensinya, yang kafir dineraka dan yang Iman diSyurga
3. Kalaupun neraka tidak kekal, tapi tetap menyakitkan dan menakutkan. Oke yang percaya akherat tidak kekal silahkan coba masuk neraka, kan gak kekal, hehehehe
4. Inilah anehnya orang pintar kita, bedah quran bukan untuk membuat umat main maju malah bikin hal yang tak semestinya dibahas, dibahas juga. Kalau memang sarjana nuklir, udah pikirin cara buat reaktor yang aman dan islami, gitu
5. Kebenaran hanya milik Allah, tapi ingat Allah sudah kasih buku panduan tentang kebenaran dan utusannya, pakai itu
Agustus 29, 2007 pada 6:17 am
Biasanya jika seorang bijak semakin pintar, maka semakin sadar bahwa banyak hal yang sebenarnya tidak diketahuinya, dan semakin ia mencari tahu akan sesuatu, maka akan muncul kembali ketidaktahuan2 baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Yang jadi persoalan adalah sejauh mana pembahasan akan sesuatu itu bermanfaat bagi manusia atau umat Islam pada khususnya. Jika hanya mengundang perdebatan yang tidak perlu, ada baiknya dipikirkan kembali maksud pembahasannya itu.
Artikel ini dibuat dengan maksud agar kita dapat dengan bijak dalam memahami persoalan, tidak terburu-buru menyetujui ataupun antipati terhadap pemikiran orang lain.
September 4, 2007 pada 3:03 am
Setelah membaca buku-bukunya Ust. Agus Mustofa, saya mendapat banyak pencerahan.
Namun saya kecewa dengan berbagai komentar yang menghujat dan menyalahkan tulisan di buku ini, bahkan ada yang memvonis penulisnya kelompok kafir (walaupun secara tidak langsung).
Kalau pihak penghujat merasa lebih benar, cobalah buat buku untuk meluruskan pemahamannya, saya yakin mereka belum tentu bisa.
Mereka itu ibarat penonton sepak bola, ketika menonton pertandingan sepak bola mereka menghujat pemain tidak becus, loyo, dsb. Tetapi ketika mereka disuruh bermain bola, belum tentu bisa menendang bola.
September 4, 2007 pada 4:41 am
jika kamu merada dalam suatu majelis maka berlapang-lapanglah….
agama itu untuk mu jadi terima apa yang paling fit in…panduannya sama Al-Qur’an dan Hadist…masing masing kita hanya akan ditanya atas apa yang kita perbuat….apa yang kita bentuk dalam hidup ini yang hasil bentukannya baru terlihat saat akhirat nanti….
September 20, 2007 pada 7:15 am
Subhanallah…dengan membaca buku-buku Bpk agus mustofa…Insyaallah semakin meningkatkan keimanan saya. Saya jadi semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang paling masuk akal…agama yang paling haq…hanya saja kemampuan/ilmu manusia hanya setitik, tidak ada apa-apanya, dan tidak akan pernah bisa menyamai ilmu Allah…
saya yakin, semakin tinggi ilmu manusia (yang cuma setitik itu)…akan semakin dapat menangkap tanda-tanda kekuasaanNya keagunganNya…tentunya dengan hidayah dariNya…Subhanallah…
September 25, 2007 pada 4:09 am
agus mustofa benar2 telah membuka cakrawala berfikir umat islam sehingga tidak jumud / statis dan terbelenggu dalam taqlid buta pada ajaran2 masa lalu….
Oktober 4, 2007 pada 5:19 am
Saya percaya keimanan bukan dengan cara di’dogma’kan, tapi dengan proses pembuktian bertahap yg membawa kita pada pemahaman akan kebenaran kitap suci yang kita agungkan. Maka semakin banyak bukti kebenaran yang kita lihat, makin dalam pula keimanan kita. Saya percaya Allah memberi kita otak dengan kekuatan yang maha dahsyat, dan bukan untuk di’anggurkan’, tapi harusnya dioptimalkan untuk menjawab ‘tantangan’ Allah ‘iqro’.
Saya suka tulisannya pak Agus karena semua yang ada (di Quran) dikaitkan dengan ilmu pengetahuan terkini dan terbukti semakin memvalidasi kebenaran semua yang ada di Quran. Btw, kalau teman-teman suka membaca buku yang membahas Al Quran dengan bukti2 dari science, saya sarankan juga baca buku-buku tulisannya Dr. Maurice Boucaille.
Oktober 12, 2007 pada 1:24 pm
ada satu pertanyaan yang mungkin bisa saya kemukakan disini.
saat allah memberikan amanah untuk menjadi kalifah, bumi menolak, langit menolak, sedangkan manusia menerimanya.pertanyaannya, kapan amanah itu di berikan?apakah setelah adam di ciptakan?ataukah sebelum adam tercipta dalam bentuk fisik, namun dalam bentuk ruhnya?lalu kapan manusia itu bersaksi dihadapan allah sebelum dimasukkan pada jasadnya(dilahirkan)?bukankah adam juga melalui proses tersebut?kemudian dia diciptakan dan melakukan kekhilafan.kalau memang adam adalah manusia, maka seharusnya beliau juga melalui semua yang kita lalui dalam segala proses, baik saat persaksian, maupun saat penciptaan
(kelahiran)?
Oktober 22, 2007 pada 7:18 am
apapun komentar tentang tulisan bp. agus mustofa perlu dihargai artinya mereka membaca juga … setiap pendapat adalah sah selama tidak ada unsur pemaksaan thd pendapat tsb … saya suka tulisan dan pencerahan bp. agus … ternyata ilmu tasawuf pun bisa dilogikakan … dan tulisan bp. agus mengajak kita berpikir tentang ke-MAHA BESAR-an ALLAH dan ke-MAHA LUAS-an ILMU ALLAH.
biarkan ALLAH membimbing pembaca ke jalan-Nya apapun bacaannya. Semoga hidayah dan ridho Allah beserta kita semua. Amin. Pa Agus ditunggu tulisan2nya yang lain …
Nopember 2, 2007 pada 3:17 pm
bermanfaat atau tidaknya sebuah informasi atau buku, HATI NURANI kita yang bisa menjawabnya.
Jangan bunuh hati nurani!
Nopember 10, 2007 pada 8:58 pm
Assalamualaikum wr. wb
ck ck ck…… Ya Alloh ampuni segala dosa ku ini….
Pusing ah ini yang posting ga pada nyimak maksud blognya ah teliti dolo baru komen jgn asal komen, yg jelas mereka ngebantu kita buat ngebadah AL Qura nur Karim dan di amalkan. bedah sendiri kalo kurang jelas tanya pada yang lebih tau…… IQRA… IQRA….IQRA….
IQRA 2 baru tamat neeh hehehehhehe
sok weh teruskeun pan engke aya nu silih bacok meureunan…..
gorengkeun salah sahiji, trus gogoreng nu hiji deui…. tah ceuk setan kitu merenan nyak
mudah-mudahan ikut posting ini di lindungi dari bisikan setan yang terkutuk…. amin ya roball `alamin
wassalam
Nopember 10, 2007 pada 9:00 pm
beuh dasar kokod ada kekurangan ngetik
Al Qura
seharusnya
Al Quran
sori gw manusia
Januari 9, 2008 pada 2:42 pm
Klo mnurut saya, ust. Agus Mustofa bermaksud baik. Dg ia mencantumkan “Serial Diskusi Tasawwuf Modern” pada setiap bukunya, berarti ia selalu membuka masukan dari seluruh pihak. Tentu ia juga manusia yang tak terlepas dari kesalahan. Tapi, menurut saya sebaiknya anda membaca seluruh buku2nya, karena pemikiran manusia itu selalu berkembang setiap waktunya. Dan karangan2 ust. Agus Mustofa juga mengalami perkembangan pemikiran2. Saya kira juga banyak kelemahan2 serta informasi2 yang tak hanya ada pada satu atau dua buku saja. Dan alhamdulillah saya sangat terinspirasi oleh pemikiran beliau setelah membaca banyak buku beliau.
Semoga semangat beliau untuk membuka kembali pikiran dan akal umat Islam serta memajukan Islam teresonansi kepada semua pembaca, terimakasih.
Oh iya, satu lagi. Pada waktu dekat, ust. Agus Mustofa akan ada tayangan pengajian serial-nya di JTV. Dan kabarnya juga ada audience yang bisa bertanya langsung di studionya. Tetapi harus daftar dulu. Mungkin ini salah satu usaha beliau untuk menanggapi banyak komentar dan pertanyaan dari para pembaca.
Semoga bermanfaat, sekali lagi terima kasih
Wass. wr. wb.
Januari 9, 2008 pada 2:57 pm
Oh iya, saya mau merevisi ketikan saya di baris ke enam. Maksud saya, banyak kelemahan pada buku2 karya beliau yang ternyata sudah di betulkan / di lengkapi informasi2nya, sehingga jika kita membaca setiap buku2nya sampai buku terakhir, kita baru bisa menangakap maksud beliau, bahwa ia ingin mensosialisasikan Islam sebagai agama yang baik, mudah dipahami bagi siapa saja, dan pasti akan cocok dengan kenyataannya.
Meski ilmu pengetahuan itu terus berkembang, lalu bagaimana kita bisa belajar Quran tanpa pengetahuan? Paling tidak kan harus berpendidikan.
Dan untuk mempelajari semua itu, kita harus menggunakan akal kita
Kalau tak menggunakan akal, ya tidur saja, atau pingsan saja, atau bahkan mati saja. Karena ketika kita bangun pun sudah menggunakan akal.
Maka dari itu, jangan beranggapan beragama tak boleh menggunakan akal. Dan Agus Mustofa mengambil sudut pandang dari ilmu pengeteahuan. Beliau mengambil sudut pandang tersebut agar semua kalangan bisa memahami, serta Islam sendiri agar terpacu dalam hal ilmu pengetahuannya. Karena menurut saya Islam sampai sekarang masih mundur karena salah satunya ilmu pengetahuannya tak berkembang.
Sekian, sekali lagi terima kasih
Wass. wr. wb.
Februari 3, 2008 pada 4:47 pm
Kini telah lahir manusia yang berani menjadi saingan Harun Yahya…. No comment soal Agus Mustofa, saya sangat menghargai pendapat beliau…. Apabila anda membaca Al Quran, maknanya akan jelas dihadapan anda. Tetapi bila anda membacanya sekali lagi, Anda akan menemukan pula makna2 lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai2 anda dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai arti bermacam-macam, yang semuanya benar atau mungkin benar. Ayat2 Al Quran bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut2 lainnya. Dan tidak mustahil, bila anda mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang anda lihat…
Februari 3, 2008 pada 9:36 pm
@hari nugroho
Yup..hal itu juga yang membuat AL Qur’an itu senantiasa cocok di sepanjang zaman.
Oleh karena itu jarang sekali Al Quran berbicara secara eksplisit tentang IPTEK.
Namun hanya kisi-kisi yang tidak terlalu jelas, namun terus sesuai dengan perkembangan zaman.
Misalnya, zaman dahulu, orang menganggap bumi itu datar, Al Qur’an menjelaskan secara implisit bahwa bumi itu bulat, namun karena hanya implisit, maka waktu itu orang yang berpendapat bumi itu datar tidak terlalu risau dengan pernyataan-pernyataan Al Quran.
wassalam
Februari 9, 2008 pada 5:24 am
Menurut hemat saya dalam mempelajari sesuatu dari buku kita harus Open Mind dulu jangan saling salah menyalahkan,yang pasti kebenaran hanya milik Allah.wassallam
Februari 27, 2008 pada 2:05 pm
klo menurut saya,ada tiga tujuan dalam membaca buku :
1. mencari jawaban atas pertanyaan kita
2. menambah pengetahuan kita
2. memberikan inspirasi bagi kita
dan itu semua saya dapatkan dengan membaca buku2 karangan pak agus
Maret 25, 2008 pada 9:54 am
terlepas dari kekurangan yang memang milik semua manusia, karya agus mustofa dapat dijadikan referensi bagi kita merenungi hidup. oke………….!!!!
Maret 26, 2008 pada 7:28 am
Pembaca yang budiman dan dirakhmati Allah..
Iqra’ itulah pertama kali Rasulullah mendapat perintah,, artinya sangat luas..
Dengan iqra kita mencoba mencari kebenaran, sementara mencari kebenaran sifatnya dibenarkan dan mendapat pahala..
Dengan Iqra orang barat maju, kaum yahudi dan cina saat ini menguasai dunia.. ya kan
Sementara yang punya “Iqra” masih berkutat seputar itu-itu saja, nah loe…
Pak Agus hanya menawarkan sebuah pemahaman yang Insya Allah tujuannya mulia, ingin menselaraskan agama dengan ilmu melalui logika.. bukan untuk anda percayai atau tidak percayai, tapi lihatlah konteksnya..
“Islam” kata Karen Armstrong adalah agama yang realistis, tidak mengajarkan hal-hal yang bersifat mistis.. kerealistisan hadir dari sesuatu yang rasional..
Saya jadi tergerak untuk mencoba memahami… pada kenyataan semua yang diciptakan Allah sangat teratur dan penuh logika,,
Allah melalui nabi kita tidak pernah mengajarkan kalau mau makan hanya cukup dengan do’a, makanan lalu datang dari langit dengan begitu saja.. kalau mau pergi ke Mekah cukup dengan baca-bacaan lalu sudah tiba di Mekah.. ternyata tidak… apa pekerjaan petani, sopir, pilot…. wah mereka perlu juga hidup,, untuk bertahan hidup orang harus makan, untuk bisa makan orang harus bekerja.. nah untuk bisa bekerja kita perlu punya pengetahuan yang baik ……… selanjutnya anda pasti paham
Jadi jangan pernah berhenti membaca, buku apa dan siapapun….
bukunya Pak Agus yang jelas bukan kitab yang harus anda jadikan pedoman… Alqur’an dan hadis’ adalah pegangan kita, selama tidak bertentangan kenapa tidak?
Baca, baca dan bacalah semoga menjadi budaya agar bangsa ini maju..
Sya teringat pendapat Prof. Jefry Lang, seorang muslim Amerika.. Islam itu agama yang yang Universal, dia tidak terikat ruang dan waktu… lalu kenapa orang-orangnya tidak maju?
ada dua faktor, Orang islam cenderung :
1. Selalu berorientasi kepada masa lalu (dulu zaman sahabat dll, tidak begini dan tidak begitu, sementara kita hidup diabad yang serba teknologi)
2. Terikat dengan kebudayaan arab (untuk dapat dikatakan sebagai muslim harus pakai surban baju koko, gamis dll), padahal pakai batik dan jJas juga kan islami.
Demikian, terima kasih.
April 11, 2008 pada 3:09 am
Manusia itu lemah dan bodoh sehingga terjadilah permusuhan peperangan saling menumpahkan darah diatas muka bumi sebagaimana yang di kuatirkan malaikat,dan semua rahasia / tabir akan terungkap sehinnga manusia akan sadar dan mengerti hakikat yang sesungguhnya yaitu pada waktu sakratul maut yaitu apabila tabir telah tersingkap.
April 20, 2008 pada 3:02 am
assalamu `alaikum
pak mustofa
coba belajar agama secara benar
jangan sok pintar
ok
April 24, 2008 pada 2:11 am
Assalamu’alaykum
Bismillah, semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua.
Saya sangat kagum dengan analisa yang dikemukaan Agus Mustofa dalam buku-bukunya, WALAUPUN tidak semua pendapatnya saya AMINi. Mohon maaf kepada semua temen2 jika posting ini menggugah kembali pemikiran anda semua tentang ADAM.
Saya setuju dengan logika penciptaan Isa = penciptaan Adam. TAPI pendapat bahwa Adam dilahirkan dari rahim makhluk lain (yang serupa manusia) itu kelihatannya perlu kita kaji ulang. Kalau memang mau pake logika A=B –> B=A seperti yang dilakukan Agus Mustofa, mengapa kita ngga’ berlogika juga bahwa ADAM juga dilahirkan dari rahim seorang “IBU”, seperti MARYAM ibundanya ISA. Konsekuensinya, pemikiran bahwa ADAM adalah manusia pertama haruslah kita koreksi juga. (O ya, kalo ada temen2 yang punya dasar bahwa ADAM adalah manusia pertama tolong disampaikan, Please ya!!). Kita akan bahas ini kalo dah ada komentar dari temen2 lain. OK???
Wassalamu ‘alaykum
Mei 10, 2008 pada 3:37 am
saya adalah salah satu penggemar buku karangan agus mustofa, sesungguhnya di negara kita masih langka orang alim sekaligus ilmuwan seperti ust. Agus Mustofa ini, saya menyadari ilmu saya dalam soal agama sangat rendah namun saya berusaha memahami ayat-ayat suci Qur’an dengan membaca tafsirnya maupun asbabun nuzulnya, hasilnya tidak seperti membaca bukua Ust.Agus Mustofa dapat mengurai ayat-ayat secara ilmiah meski masih ada keterbatasan dan kesalahan wajar bagi seorang manusia, setelah membaca bukunya hati saya selalu bergetar mengagumi kebesaran Allah sebagai sang pencipta dan semakin menambah tebal keimanan saya, semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kejernihan pikiran untuk dapat memberikan lebih banyak lagi kepada kita informasi-informasi yang terkandung dalam Qur’an. salam untuk Ust. Agus Mustofa, amiiin…
Mei 13, 2008 pada 11:06 am
Assalammualaikum wr. wb.
Saya sudah membaca 11 buku Pak Agus Mustofa, sungguh, saya mengagumi cara analisisnya, dan menginspirasi saya untuk mengeksplor kitab Al Quran. Yg selama ini saya baca arabnya saja dan tak mengerti. Sambil membaca buku pak Agus, saya coba klarifikasi dengan membuka tarjamah dan tafsirnya. Lepas dari cocok, sesuai benar atau tidak. Saya menjadi terinspirasi untuk ikutan menganalisis Al Quran yg penuh hikmah. Dan sungguh, saya merasakan kedekatan dengan Al Quran, dan merasakan bahwa ternyata Al Quran adalah petunjuk yang sangat-sangat luar bisa. Sehingga saya menjadi terus ingin mengetahui makna-makna dibalik ayat2 Al Quran. Tanpa disadari saya seperti berdialog dengan Allah. (Merasa berbincang -bincang). Disini saya hanya ingin mengatakan bahwa tulisan pak Agus, sesungguhnya sangat positif untuk merangsang umat, agar membangunkan kesadaran logikanya untuk dapat menggali pesan-pesan, makna-makna yg luar biasa banyaknya di dalam Alquran dan mengembangkannya agar sebagai muslim kita dapat menjadi umat yang unggul dan menjadi peran utama dalam menata dunia sesuai dengan kehendak Allah.
Cerdaslah wahai saudaraku yg mengkritisi pak Agus dengan emosional gak jelas.
Mei 21, 2008 pada 5:05 am
Menurut saya Agus Mustafa sangat luar biasa pemikirannya, para komentator juga sangat baik kritiknya, alhamdulillah ternyata muslim Indonesia masih banyak yang menggunakan akalnya. Jangan lupa selalu gunakan akal kita, jangan taklid buta.
Mei 22, 2008 pada 1:54 am
boleh beda pendapat tapi ga boleh anarkis ya
Mei 25, 2008 pada 10:36 am
Assalammu’alaikum, mas Ari
Orang sekaliber mas Agus Mustofa, kalau menelurkan buku tentang Al Qur’an dengan Teori Fisika-Nuclear….
Bahagia rasanya saya membacanya
Mei 26, 2008 pada 8:19 am
WAHAI SAUDARAKU, HIDUP INI SEMUANYA HANYALAH ” PERMAINAN ALLAH..” ALLAH SEDANG BERMAIN & MENGUJI SETIAP UMATNYA UNTUK IKUT SERTA DALAM PERMAINAN-NYA…!
” TIDAK AKAN KUCIPTAKAN JIN & MANUSIA HANYA UNTUK BERSUJUD KEPADAKU.. ”
WASSALAM….
Mei 26, 2008 pada 8:25 am
@haniifa
wa’alaikum salam wr. wb.
benar mas, bukan berarti beliau tidak boleh menulis hal-hal lain, namun akan lebih kredibel kalau beliau menulis sesuatu yang memang terkait langsung dengan bidangnya..
pun demikian buku-bukunya asik untuk dibaca, melihat cara pandang yang berbeda dari umumnya.
Mei 29, 2008 pada 10:43 am
Salam
Setuju atau tidak
ternyata masih ada ilmuwan islam yg mampu menafsirkan alquran dari sisi lain
(baca: sains)
saya setuju, selama ini menjadi kajian ilmiah
untuk menjadi keyakinan, silahkan dikembalikan ke individu masing2
tetapi … penafsiran asl quran memang “Subhanallah” sangat memperkaya pemikiran para pemikir islam
apapun hasilnya .. ukhuwah tetap dijaga
wasalam
wahyu
Mei 29, 2008 pada 2:08 pm
1. dhomir “ha” pada kalimat “wa kholaqo minha zaujaha” bukan berarti adam punya ibu, akan tetapi dalam ilmu nahwu kata ganti untuk kata “nafsun” memanglah “ha”.
2. adam diturunkan dari surga, artinya ketika itu bumi dan surga saat itu sama-sama sudah ada. sekarang kita hidup di dunia atau tepatnya di bumi, saat ini juga surga dan neraka sudah ada. tidak ada keterangan bumi atau dunia nantinya akan berubah menjadi surga dan neraka.
Juni 2, 2008 pada 5:16 am
“nandar Berkata:
April 20, 2008 pada 3:02 am
assalamu `alaikum
pak mustofa
coba belajar agama secara benar
jangan sok pintar
ok”
Saya ingin menanggapi komentar ini
Jadi menurut anda, anda sudah pintar?
Anda bisa mengerti, “Maksud Allah itu seperti yang saya maksudkan”, begitu?
Apa nggak terlalu jauh tah mas?
Kalau saya nggak mau seperti itu, takut musyrik
Merasa dirinya pasti benar seperti Allah, dan yang lainnya salah
Anda nggak bisa begitu, sama sekali nggak “ok”
Agus Mustofa ingin mengajak umat berpikir
Tidak saling menyalahkan. Karena Nabi pun gak mengajarkan saling menyalahkan, tetapi dengan kebersamaan untuk membangun Islam, menggunakan akal yg telah diberikan Allah
“Afalaa ta’qiluun”, apa kamu tidak berakal?
Hahaha, dikira kalo merasa benar seperti itu, serta suka menyalahkan orang lain tanpa alasan jelas, bakal masuk surga
Makanya, jangan ngomong se’enaknya