Ditulis oleh aricloud di/pada Februari 25, 2008
Saya sangat tertarik membaca diskusi postingan dari mas agor di : Kartun Nabi; Bagaimana Sikap Ummat Islam ? Agar terdokumentasi dalam blog ini, maka saya masukkan komentar saya di blog ini.
Bukan sekali dua kali karikatur atau kartun pelecehan nabi Muhammad saw dan Agama Islam terjadi. Namun apakah semua itu akan berakhir apabila kita meluapkan emosi dengan membalasnya dengan aksi serupa atau ancaman terhadap pembuatnya, atau sikap permusuhan, atau demonstrasi berlebihan?
Saya bukannya tidak setuju dengan sikap tegas terhadap para penghina tersebut, namun saya ingin mengutarakan beberapa hal: Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ibrah | 7 Komentar »
Ditulis oleh aricloud di/pada Agustus 13, 2007
Suatu ketika seorang sahabat bercerita:
Saat saya sedang tugas ke daerah, alhamdulillah saya selalu menyempatkan diri sholat berjama’ah di Mesjid. Imam sholat seringkali didominasi oleh 2 orang Bapak. Sayangnya, menurut saya kedua bapak yang sering menjadi imam tersebut kurang memahami pelafanan dalam bacaan sholat. Bacaannya memang terdengar indah di telinga, namun salah dalam pengucapan pada beberapa huruf.
Kemudian suatu saat saya terlambat ikut berjama’ah pada sholat Isya, sementara jama’ah sudah mulai membubarkan diri. Kemudian saya menemukan seorang bapak yang biasa menjadi makmum juga terlambat. Saya mempersilahkan bapak itu untuk menjadi imam. Ternyata bacaan bapak itu sangat baik dan benar.
Kemudian setelah selesai sholat saya menyempatkan ngobrol dengan bapak itu.
Saya menanyakan, mengapa Bapak tidak pernah menjadi imam saat sholat-sholat jama’ah? padahal bacaan bapak tergolong jauh lebih baik dibanding mereka yang biasa menjadi imam?.
Bapak itu kemudian menjawab dengan hati-hati:
“Orang-orang disini kebanyakan tidak memahami bacaan Al Quran yang baik dan benar.” Mereka hanya mengambil kesimpulan dari enak tidaknya suara dan bacaan yang didendangkan oleh imam, kemudian mereka menyimpulkan bahwa bacaan itu benar dan bagus.”
Misalnya, hampir semua huruf dibaca seperti Qalqalah, ‘Kaf’ dilafalkan seperti ‘qaf’, ‘alif’ dilafalkan seperti ‘ ‘ain’, serta penempatan mad pada tempat-tempat yang tidak benar.
Hal itu dikarenakan ketidaktahuan mereka. Dan karena sudah menjadi kebiasaan, maka saat seorang yang benar-benar mampu berkesempatan menjadi imam, maka bacaannya dianggap salah oleh masyarakat.” Selanjutnya ia tidak pernah lagi dipersilahkan menjadi imam.”
Saya dan beberapa orang seperti saya sudah mulai menggalakkan kegiatan baca tulis Al Quran di desa ini, namun yang mengikuti hanya anak-anak kecil dan sedikit pemuda.”
Ooo.. mendengar penuturan bapak itu saya manggut-manggut, dalam hati saya berpikir, Jika masyarakat kita masih bodoh, maka mereka juga akan memilih pemimpin yang bodoh…Apa kata dunia?
Ditulis dalam Ibrah | 3 Komentar »