Mencari Cinta-Nya

I have face it, life wasted, i am never going back again

Bisakah Takdir Diubah?

Posted by aricloud pada September 8, 2007

bisakah takdir diubah ? atau bisakah kita mengubah takdir ?

takdir tidak bisa diubah…insya Allah ini adalah sebuah kepastian.

Mengapa?

Sangat banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini, beberapa diantaranya sudah saya masukkan dalam postingan sebelumnya.

Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah” [Al-Hajj : 70]

Dia (Allah) melakukan apa yang Dia kehendaki” [Ibrahim : 7]

Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” [As-Safat : 96]

Namun kemudian kita bertanya kembali, apa maksud Allah dengan ayat berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar ra’ad 11)

Menurut ayat tersebut, jelas sekali bahwa seakan akan takdir itu macam-macam, jika kita belajar maka pintar, jika malas, maka bodoh, misalnya. Sehingga Takdir itu tergantung perbuatan kita. Hal ini seringkali membuat orang bingung tentang definisi Takdir, apakah takdir adalah pilihan-pilihan ataukah ketetapan mutlak?

Disini saya tidak mengubah pendapat saya, bahwa Takdir tidak dapat dirubah. Akan tetapi, Takdir itu sendiri diciptakan Allah disertai dengan berbagai alasan. Alasan utama tentu saja adalah Kehendak Allah SWT. Namun ingat !, selain ”Maha Berkehendak”, Allah SWT juga ”Maha Pengasih” dan ”Maha Penyayang”.

Artinya adalah Allah SWT mendasari Kehendak-Nya juga atas dasar aksi-reaksi terhadap apa yang dikehendaki oleh manusia. Selain itu Allah SWT juga ”Maha Mengetahui”. Artinya, apapun yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh manusia di masa yang akan datang sebenarnya sudah diketahui oleh Allah SWT.

Kita akan sangat mudah memahami ini manakala kita meyakini bahwa seluruh Alam ini merupakan ciptaan Allah SWT, termasuk ”WAKTU”. Manusia memahami ”waktu” sebagai sesuatu yang terus berjalan ke depan. Namun tidak demikian halnya dengan Allah SWT. Karena ”waktu” adalah ciptaan-Nya, maka mustahil Allah SWT terbatasi oleh ’waktu”. Oleh karena itu bagi Allah SWT tidak berbeda apakah masa depan ataukah masa lalu, semua telah diketahui-Nya.

Saat kita berniat akan sesuatu, maka Allah SWT bahkan sudah mengetahui jauh dahulu kala akan niat kita itu. Kemudian Allah berkehendak takdir tertentu akan niat kita itu.
Misalnya : Si A nanti pada detik, menit, jam, tanggal, bulan dan tahun tertentu akan berniat naik motor. Maka pasti benar, si A akan berniat naik motor. Kemudian karena si A berniat naik motor, maka Allah SWT mentakdirkan ia naik motor. Kemudian Allah mentakdirkan si A tabrakan dan meninggal dunia. Itulah Takdir.
Mengapa Allah mentakdirkan si A tabrakan dan meninggal dunia?, karena Allah SWT juga mengetahui bahwa si A nanti naik motornya kebut-kebutan.
Lalu bagaimana jika si A naik motornya tidak kebut-kebutan? Apakah tidak jadi tabrakan dan tidak jadi meninggal dunia?
”TIDAK MUNGKIN !!” Apa maksudnya tidak mungkin? Maksudnya, pertanyaan tersebut tidak perlu ditanyakan, karena Allah SWT dahulu mengetahui bahwa si A akan kebut-kebutan, maka MUSTAHIL dugaan Allah SWT salah atau mustahil si A tidak jadi kebut-kebutan.
Begitu juga dengan ”berdo’a”
Kalau rejeki seseorang jelek terus misalnya, kemudian berdo’a pada Allah SWT dan diberikan rejeki baik setelah itu, maka kebanyakan orang menyangka bahwa Allah SWT telah mengubah Takdirnya. Padahal memang demikianlah ”Alur” takdir orang itu. Allah mentakdirkan orang itu rejekinya jelek karena alasan tertentu, dan kemudian memberi rejeki baik karena Allah SWT juga telah mengetahui dahulu kala bahwa orang itu akan berdo’a.
Jadi sebelum kita ”memilih” sesuatu, Allah SWT bahkan sudah mengetahui apa yang akan kita pilih. Dan Allah SWT bisa Maha Berkehendak apakah pilihan kita itu dipertimbangkan dalam Kehendak-Nya menentukan takdir atau tidak.
Oleh karena itu terjawablah ayat :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar ra’ad 11)

Wallahu’alam bis showab.

Posting lanjutan : mengubah takdir? 

32 Tanggapan to “Bisakah Takdir Diubah?”

  1. eddie bronx said

    Apa maksud dari Allah SWT tidak terbatasi olehh waktu? apa berarti Allah SWT mampu berpindah2 dari masa depan ke masa lalu dan sebaliknya? atau apakah waktu Allah SWT berbeda bagi kita? mohon penjelasannya Pak

  2. aricloud said

    @eddie
    mas eddie, saya pun juga tidak mampu mendefinisikan lebih jelas pendapat saya tersebut, bagaimana konsep ketidakterbatasan Allah terhadap waktu?
    Namun saya pernah membaca satu hal menarik dalam buku Agus Mustopha tentang Takdir. Menurut Agus Mustopha, waktu bagi Allah berbeda dengan manusia. Waktu bagi manusia adalah adanya sela di antara dulu, sekarang, dan yang akan datang. Namun bagi Allah, waktu itu bersifat mampat. Artinya, tidak ada batas atau sela antara dulu, sekarang dan masa yang akan datang.
    Wallahu’alam

  3. Spitod-san said

    Saya masih sering memikirkan tentang kisah nabi khidir dan nabi musa, dan korelasinya tentang takdir..
    Selam ini kayaknya saya tidak benar-benar mengerti, dan mungkin engga bakalan mengerti😦

  4. aricloud said

    @ Spitod-san
    Mas, saya coba berbagi sedikit kebingungan pada postingan baru tentang takdir
    https://aricloud.wordpress.com/2007/09/12/mengubah-takdir-jilid-2-2/

  5. […] September 12, 2007 lanjutan dari Bisakah Takdir Diubah?  […]

  6. Ahsan said

    kalau saya membatasi takdir yaitu atas apa-apa yang TELAH terjadi, kata telah menunjukkan waktu yang sudah lewat atau waktu lalu. Jadi karena kita manusia tidak bisa memundurkan waktu, maka kita tidak bisa merubah……..

  7. Ujang said

    untuk sdr eddie

    definisi waktu adalah rentetan peristiwa-peristiwa. jika tidak ada peristiwa maka tidak ada waktu. waktu ada karena ada peristiwa yang diciptakan oleh Allah. Allah ada walaupun tidak ada peristiwa, oleh karena itu Allah tidak terikat oleh waktu. massa lalu dan massa depan adalah adalah sama dihadapan Allah. jika dianalogikan seperti kita melihat sebuah penggaris, dimana awal dan akhirnya sudah terlihat dengan jelas. Dihadapan Allah, tidak ada waktu. Hanya Allahlah yang multak ada.

    salam

  8. aricloud said

    @ujang
    penggaris? perumpamaan yang menarik.
    pada penggaris, kita melihat permulaan (pada titik nol) dan akhir pada titik angka terakhir, sebagaimana waktu bagi manusia, dan tentu tidak berlaku bagi Allah swt.

  9. Pamuji Yuono said

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, dari hadits Tsauban:
    “Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a, tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebaikan, dan seseorang benar-benar dihalangi dari rezeki disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya.” (HSR Al-Hakim 1/493)
    :Takdir tidak dapat diubah?
    Mohon penjelasannya?

    • aricloud said

      Maaf baru sempat membalas

      saya kira saya sudah cukup jelas menjelaskan pada paragraf terakhir :
      Begitu juga dengan ”berdo’a”
      Kalau rejeki seseorang jelek terus misalnya, kemudian berdo’a pada Allah SWT dan diberikan rejeki baik setelah itu, maka kebanyakan orang menyangka bahwa Allah SWT telah mengubah Takdirnya. Padahal memang demikianlah ”Alur” takdir orang itu. Allah mentakdirkan orang itu rejekinya jelek karena alasan tertentu, dan kemudian memberi rejeki baik setelahnya karena Allah SWT juga telah mengetahui dahulu kala bahwa orang itu akan berdo’a dan berusaha.
      Jadi sebelum kita ”memilih” sesuatu, Allah SWT bahkan sudah mengetahui apa yang akan kita pilih. Dan Allah SWT bisa Maha Berkehendak apakah pilihan kita itu dipertimbangkan dalam Kehendak-Nya menentukan takdir atau tidak.
      Pada saat orang malas, bukankah Allah SWT sudah mengetahui lebih dahulu bahwa orang itu pasti akan malas nantinya? sehingga Allah SWT menghendaki takdir tertentu karena kemalasannya.

      Semua telah diatur sedemikian detailnya. Aturan tersebut dibuat tentu berdasarkan pengetahuan Allah akan pilihan dan sikap yang akan diambil oleh Hamba-Nya. Bukankah Allah sudah mengetahui apa sikap dan pilihan kita besok? bulan depan? tahun depan? dan Allah sudah mengetahui sikap dan perasaaan Hamba-Nya jauh sebelum mereka diciptakan. Dari pengetahuan itulah Allah SWT menetapkan takdir yang pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya.
      Oleh karena itu insya Allah terjawablah ayat :
      “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar ra’ad 11)
      Wallahu’alam

  10. burama said

    aslmlkm wrb.

    “Masyarakat Indonesia, pada umumnya , mengartikan takdir sebagai nasib. Bahkan sebagian besar Muslim menyikapi takdir sebagai alasan untuk tidak berbuat maksimal, kurang bertanggung jawab, dan tidak bersungguh-sungguh untuk mengupayakan sesuatu yang lebih baik dengan segenap pikiran dan tenaganya.”

    Minggu, 21 maret 2010.

    Klasifikasi: Sedang.

    Kali ini kita tidak berbicara kripto atau sains yang rumit. Kita akan berbicara mengenai miskonsepsi takdir. Pengertian sederhana tetapi banyak disalah artikan, terutama bagi orang beragama, khususnya Islam.

    Intinya, kita semua memaknai takdir – karena pergeseran arti dalam bahasa Indonesia – sebagai sesuatu ketetapan yang berhubungan dengan nasib manusia, yang diberikan “begitu saja”, “as given”.

    Namun ternyata Kitab Mulia al Qur’an berkata lain tentang takdir.

    Struktur takdir berawal dari kata “ kadar”, dalam bahasa al Qur’an disebut “qadar” berasal dari tiga abjad QDR (Qaf, Dal, dan Ra) yang artinya dalam bahasa umum “kadar, atau ukuran”. Dari QDR muncul kata “Qadara” yang bermakna “ukuran, kadar, standar, pola, siklus, model” – dalam kata lain “Qaddara” berarti memberikan “ukuran, pola, standard” dan terakhir berhubungan dengan “taqdir” yang bermakna “sesuatu yang pas dengan ukuran, kadar, standard atau model tertentu”. Oleh karena itu, sesungguhnya takdir adalah suatu keadaan yang sesuai atau pas dengan standard alam yang berlaku.

    Arti umum Qadar dalam al Qur’an lebih banyak berhubungan dengan hukum alam, “nature”. Contohnya banyak sekali, siklus Bumi, Bulan dan Matahari, sirnanya bintang-bintang, siklus air hujan, siang dan malam, musim yang berganti dan sebagainya. “Tuhan telah menciptakan standard untuk segala sesuatu” (Qs, 65:3) atau “ Tuhan memerintahkan segala sesuatu untuk memenuhi pola (pattern) yang telah ditetapkan (Qs, 33:38). Dimana yang namanya “standard, pola, atau model” semuanya berhubungan dengan Hukum Alam dan sebagian berhubungan dengan pola hukum kemasyarakatan.

    Menyangkut obyek langit seperti peredaran bintang, Matahari, Bulan dan siklus angin – “qadar” adalah hukum alam (al Hijr, 15:21). Demikian juga “qadar” bisa berarti suatu siklus atau model kemasyarakatan, misalnya kehancuran suatu negeri (al Hijr/ Kaum Hijr, 15:4). Menentukan lamanya proses kehamilan bayi sebagai standard, siklus hujan, tahapan berdirinya gunung-gunung – semuanya – menurut al Qur’an adalah “qadar”. Sedangkan “taqdir” bagi alam semesta selain mewahyukan (memerintahkan) bagi setiap langit untuk mengatur urusannya masing-masing, sesuai “qadar”nya. Termasuk juga pemeliharaan yang sebaik-baiknya yang ditakdirkan bagi Tuhan itu sendiri (al Fushishilaat/ Menjelaskan, 41:12). Artinya Tuhan menakdirkan diri sendiri untuk “memelihara alam semesta sebaik-baiknya”. Sebab, alam semesta – jika tidak ada yang memelihara – sudah lama runtuh, sejak “kelahirannya”. (Harun Yahya, Mohamed Asadi – Paul Davies, ilmuwan).

    “Qadar” juga berarti suatu model atau pola hukum kemasyarakatan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Kuasa sebagai arahan atau petunjuk (al Ahzab/Sekutu, 33:38). Jika itu dilanggar, ada konsekuensi logis yang harus diterima, sebagai “takdir”. Model hukum kemasyarakatan disebut juga dengan “sunatullah”. Namun perlu dicatat, menurut Mohammad Iqbal – pemikir Islam yang terkenal – pengertian “sunatullah” di al Qur’an tidak berlaku bagi hukum alam di Jagad Raya ini. Ia hanya berlaku bagi model hukum kemayarakatan saja. Ini – yang biasanya tidak diketahui oleh masyarakat umum Muslim didunia.

    Contoh klasik yang sederhana tentang “qadar” dan “taqdir adalah sebagai berikut.

    “Qadar”nya manusia ditetapkan tidak memiliki sayap seperti burung, tetapi bukan berarti manusia ditakdirkan untuk tidak bisa terbang. Dengan ilmu pengetahuannya, manusia mampu ‘terbang”, bahkan jauh lebih cepat dan tinggi dari pada burung yang memilki sayap.

    Contoh ‘qadar’ dan ‘taqdir’ sehari-hari.

    Air yang berupa cairan diberikan qadar (kadarnya) bahwa diatas 100 derajat Cecius ia akan menguap menjadi gas (takdirnya berobah). Sedangkan jika didinginkan hingga mendekati temperatur 0 derajat Celcius (qadar), maka takdir air tersebut berobah menjadi es, berbentuk padat. Manusia dengan kemampuannya dia dapat memilih qadar air, dan merobah takdir air – bisa berupa cairan, gas atau berbentuk padat.

    Buah apel yang matang akan jatuh ke Bumi (takdir) tidak keluar angkasa, karena mengikuti hukum alam – gaya Gravitasi (qadar – ukuran), tetapi bila qadarnya berobah, takdirnyapun berobah.

    Hal yang penting diketahui, Tuhan telah memberikan takdir tak terhitung banyaknya di alam semesta ini, tetapi bukan takdir manusia. “Qadara” (ukuran, standard) tidak dapat dirobah, tetapi bagi manusia yang berilmu di dalam koridor kemampuannya, takdir dapat dipilih dan diupayakan.

    “Qadar” mengatakan jika kita kena air hujan akan basah kuyup. Tetapi takdir dapat dipilih, kita dapat memakai payung, jas hujan, mobil atau menunda dan mempercepat jadwal kepergian kita – sehingga kita tidak perlu kehujannan dan mejadi basah kuyup.

    Khusus bagi nasib manusia atau suatu bangsa, renungkanlah ayat berikut ini:

    “ Tuhan tidak akan merobah keadaan sesuatu kaum (bangsa, kelompok, suku) sehingga mereka merobah keadaan (nasib) yang ada pada mereka itu sendiri (Ar Ra’d/Guruh, 13:11).

  11. Haerul Fikri said

    Assalamualaikum…
    saya setuju dengan pernyataan diatas, menurut saya kita dapat memilih takdir sesuai dengan qadarnya(ukuran/takaran). takdir tidak akan pernah bisa diubah karena sudah merupakan suatu ketetapan Allah Swt,namun kita menentukan qadarnya. kita tidak boleh sesekali merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh sang pencipta ketika kita miskin, bodoh, penganguran, bahkan mati ketika sedang berzinah. tentu saja Allah Swt tidak menghendaki keadaan seperti itu karena kita telah memilih qadar yang sesuai dengan apa yang kita lakukan..
    jadi upayakanlah sesuatu yang baik sesuai dengan kqadar yang kita inginkan agar pantas buat takdir yang baik pula..

    • hamba allah said

      sya msih bingung..
      mnrut defenisinya: takdir mrupkn jln hidup seseorang yang jauh sebelumx allah swt sdh di tentukan..
      tapi takdir kok msih bisa diubah….?
      klo memeng kayak gitu,? sama saja kan klo takdir itu tidak ada…

      mohon penjelasannya….

  12. riang said

    takdir adalah termasuk perkara ghaib yang hanya bisa dimengerti manusia setelah terjadi. segala sesuatu terjadi karena ijin Allah. Dan Dia hanya meridhoi perbuatan yang baik2 saja.

  13. Roy Rey said

    Numpang comment yah

    pertama…

    Takdir adalah pilihan, pilihan adalah takdir, takdir adalah ketetapan, ketetapan adalah takdir, aku adalah takdir, tadir adalah aku, takdir adalah tujuan, tujuan adalah takdir, takdir adalah kenyataan, kenyataan adalah takdir….*(&^%$^&*@@&*()

    ga mau nerusin ah…. ga ngerti

    mendingan

    Takdir gw makan mie…kenyang
    Takdir gw ngopi….. mantabh
    Takdir gw comment disini…. asik (bisa belajar ama yang lbih pinter)

    Maaf ya kalo ngaco… jangan diomelin. makasih

  14. burama said

    terima kasih sodara haerul fikri, saya sangat setuju dengan kesimpulan anda.

    dan sebagai tambahan mohon ijin saya mau meneruskan miskonsepsi tentang takdir bagian kedua. numpang share ni ^_^

    MISKONSEPSI TAKDIR (BAG. DUA )

    “ Qadar (kadar) dan taqdir(takdir) adalah sistem . Sistem yang ditetapkan berupa standar, pola, model, siklus, operating procedure – dan dikenal luas sebagai hukum alam yang membangun dan mengatur segala urusan (‘amr) di alam semesta, termasuk model hukum masyarakat. Aturan umum, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak menentukan nasib seseorang (predestination), tetapi menetapkan sistem. Kombinasi Tuhan, sistem dan peran manusialah yang menentukan nasib seseorang.”

    Konsep takdir dipahami sebagai gampang-gampang susah. Bagaimanapun juga , Kitab Mulia al Qur’an lebih banyak bicara soal hukum alam (law of nature) yang memberikan gambaran fenomena alam di Kosmos ini, ketimbang berbicara nasib seseorang. Hukum alam termasuk didalamnya efek sebab akibat dan hukum keseimbangan (harmony: keselarasan, kepadanan, keseimbangan). Semua ayat tentang takdir dijelaskan dalam bentuk “qaddarna” yang berarti “ Kami tetapkan” dan bukan dalam bentuk “qaddartu” atau “ Aku menetapkan”. Baik Muhammad Iqbal (cendekiawan Muslim) maupun Dr. Quraish Shihab (ulama Indonesia) memberi penjelasan, bahwa ada isyarat yang sangat kuat, Tuhan menentukan sesuatu berdasarkan sistem yang dibuatNya dan ada keterlibatan pihak lain, misalnya peran aktif manusia. Konsep tersebut diatas diperkuat oleh ayat-ayat lainnya. Misalnya, makin jelas ketika Tuhan berbicara penciptaan manusia, juga tidak dikatakan dalam bentuk ”Aku ciptakan manusia (al insaan)” tetapi dalam bentuk “ Kami ciptakan manusia”. Artinya ada peran pihak lain yang terlibat, yaitu sistem dan peran aktif manusia itu sendiri dalam “penciptaan “ tersebut. Ada satu proses yang berkesinambungan, yang dimainkan oleh manusia itu selaku obyek. Si C dan si D tidak akan mungkin ada, kalau si A dan si B tidak melakukan perkawinan. Dari sisi bahasa, bentuk “Kami” adalah bentuk bahasa yang berarti penghormatan atau secara sosio-linguistik Arab bermakna “ta’dzim” [kata-kata yang sopan untuk menghilangkan kesan keakuan terutama ketika kita bicara kepada orang banyak].

    Dibawah ini sejumlah contoh pengertian qadar dan taqdir.

    (1) Matahari, dan bulan ditetapkan (taqdiir) dalam peredarannya (Ya Sin, 36:37-38). Ada empat gaya dasar di alam semesta yang menyebabkan Matahari, Bumi, Bulan dan obyek langit lainnya beredar dalam orbitnya masing-masing. Dua diantaranya, adalah gaya dasar gravitasi dan gaya dasar nuklir kuat. Hidrogen di Matahari yang “dibakar” dalam proses nuklir menimbulkan gaya tolak, sebaliknya gaya gravitasi masing-masing benda langit menimbulkan gaya hisap. Efek sebab-akibat dan konsep harmoni (keseimbangan), menyebabkan Bumi beredar mengelilingi Matahari, dan Bulan beredar mengelilingi Bumi. Tata Surya adalah salah satu contoh keselarasan qadar dan taqdir yang indah, mengagumkan, sebagaimana yang dapat disaksikan di video Youtube. Terdapat delapan planet dan lima puluh empat satelit yang diketahui. Mereka beredar pada orbitnya masing-masing karena adanya keseimbangan antara gaya sentrifugal planet yang dilawan oleh gaya gravitasi Matahari, sebagai benda primer planet-planet. Jika sebuah benda bergerak terlalu lambat, dia akan tertarik pada benda primernya, sebaliknya jika terlalu cepat, benda primernya (Matahari) tidak akan mampu menahannya, dan akan terlepas jauh keangkasa. Inilah sisstem yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Kuasa, berupa ukuran, standard, pola, model dan operating procedure yang dikenal sebagai Hukum Alam. “Tidaklah mungkin bagi Matahari mendapatkan Bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis orbitnya (Ya Sin, 36:40).

    (2) “Kami tidak menurunkannya (menjadikan) sesuatu, kecuali dengan (qadar) standarnya/ukuran tertentu” (Al Hijr/Bukit Batu, 15:21). Kita lihat pada hormon manusia, misalnya. C18H24O2 dalah hormon estrogen (qadar) yang bertanggung jawab atas sifat-sifat kewanitaan (taqdir). Berlebih ukuran satu atom Carbon saja , ceritanya menjadi lain, ia menjadi C19H28O2. Senyawa ini adalah hormon testosteron, yang bertanggung jawab atas sifat-sifat pria.

    (3) Nasib ditentukan oleh pilihan sejumlah takdir. Ada takdir kena wabah penyakit dan ada takdir tidak kena wabah penyakit. Mana yang mau dipilih? Berikut ini, kisah kalifah Umar yang memilih takdir. Kisah abad ke-7, ketika Umar Bin Khatab, khalifah Muslim Arab sampai disatu tempat di di Arab Utara, ia mendapat informasi bahwa negeri Syam (wilayah Palestina, Libanon dan Yordania) terserang wabah penyakit. Umar menginstruksikan seluruh tentaranya untuk datang dikemudian hari, maka Abu Ubaidah (salah satu stafnya) berkata kepada Umar: “Apakah kita berlari dari takdir (ketentuan) Allah?” Umar menjawab: ” Ya, kita lari dari satu takdir (ketentuan) Allah kepada takdir yang lain, bagaimana pendapatmu jika engkau berhenti di satu lembah yang memiliki dua alternatif jalan, yang satu subur dan yang lainnya kering dan tandus. Kedua-duanya adalah takdir Allah.”

    (4) Nasib juga ditentukan oleh usaha manusia, yang memilih takdir terbaik. Inilah cerita kegigihan Kolonel Sanders pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC (Kentucky Fried Chikens) dengan motonya “ It’s finger licking good”. Dia memulai usahanya pada usia 66 tahun, pensiunan angkatan darat AS, tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima resepnya tersebut dan kini kita dapat menikmatinya di Indonesia. Apa yang terjadi jika kita yang melakukannya – usia 66 tahun, siapa yang mau bersusah payah? Siapa yang tahan ditolak puluhan kali bahkan ratusan kali? Tetapi Sanders memang berbeda, dia pantas menikmati “nasib baiknya”, dia telah memilih takdir Tuhan yang baik. Sukses dalam bidang waralaba ayam goreng.

    (5) Nasib buruk dan baik adalah “nasib yang telah ditentukan” Tuhan, apakah benar? Seorang selebritis Indonesia bercerai, dan diwawancara oleh sebuah stasiun TV. Dia menjawab: “ Ini takdir Tuhan”. Kata-katanya benar, tetapi maknanya keliru, seolah-olah “nasib” tersebut ditetapkan oleh Tuhan merupakan “predestiny”. Padahal, apakah dia bercerai atau tidak, kedua-duanya takdir Tuhan. Tetapi Tuhan tidak menginstruksikan atau menetapkan dia harus bercerai. Nasib tersebut adalah pilinannya. Sama saja dengan memilih, apakah seseorang akan berbuat baik atau buruk. Hidup adalah memilih, setiap pilhan ada konsekuensi logis yang harus diambil.

    Dengan demikian, tidak ada alasan buat manusia untuk mengatakan takdir, sebagai pernyataan kemalasan atau berbuat sesuatu yang buruk.

    Salah satu qadr dan taqdir yang dikenakan kepada manusia adalah genom, kumpulan gen, dimana disana terdapat “DNA coding” . Dalam DNA ini terdapat resep berupa kode-kode yang menentukan rancang bangun fisik manusia. Hormon pria atau wanita . Apakah matanya bulat atau sipit, warnanya kulit apakah putih, hitam, kuning atau sawo matang. Rambutnya hitam lurus atau keriting, pirang atau warna lain. Tinggi badan dan ciri-ciri lain. DNA juga mengandung informasi desain 206 tulang, 600 otot, 2 juta syaraf penglihatan, 100 miliar sel syaraf, 130 miliar meter pembuluh darah dan 100 triliun sel dalam tubuh. DNA juga menyimpan resep potensi penyakit berbahaya, kemungkinan cacat bawaan, potensi karakter yang dominan, potensi umur maksimum dan lain-lain.

    Itulah contoh sistem. Tuhan hanya membangun sistem.

    Lebih jauh, konsep umum, takdir ada dua pengertian, (1) Taqdir mu’allaq yaitu takdir yang ada dalam koridor pengendalian kita, masih dapat diupayakan sesuai usaha dan ilmu pengetahuan manusia yang dimiliki masing-masing. Usaha yang maksimal dan iptek yang memadai menyebabkan pilihan takdir terbaik lebih banyak. (2) Taqdir mubram, tadir yang diluar kemampuan kendali manusia. Sifatnya bisa sementara atau permanen. Dalam beberapa hal, etnis adalah taqdir mubram, permanen – hasil dari qadhaa, qadar dan taqdir.

    Qadhaa.

    Qadhaa, qadar dan taqdir adalah kata-kata yang dikenal luas dikalangan Muslim, dan menurut ajaran Islam, wajib diimani.

    Arti qadhaa bervariasi, mulai dari menginstruksikan, aturan, ketetapan, ketentuan, atau kebijakkan (policies). Jika qadar dan taqdir dalam bentuk “simple present tense”, qadhaa dalam bentuk “past tense” atau telah lampaui. Merujuk pada contoh ayat dalam Kitab Mulia, maka maknanya adalah kebijakan Tuhan yang telah ditetapkan sejak lama (disebut sejak azali), untuk kepentingan yang lebih luas. Ada yang berupa kebijakkan untuk Hukum Alam dan ada kebijakkan tentang nasib suatu kaum atau untuk pembelajaran. Kebijakkan tersebut tidak dapat ditawar-tawar, tidak ada pilihan lain (single option) karena sudah ditetapkan lama, jauh sebelum manusia itu ada.

    Beberapa contoh diantaranya:

    (1)Kebijakkan untuk menciptakan Alam Semesta, ditetapkan jauh hari – sebelum Alam Semesta ini dilahirkan – lebih dari 15 miliar tahun yang lalu. (Al Baqarah/Sapi Betina, 2:117).

    (2)Perintah (qadhaa) untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (Al Israa’/Di perjalankan, 17:23)

    (3) Kebijakkan untuk memusnahkan kaum Luth (Loth) pada waktu subuh. (Al Hijr/Bukit Batu, 15:66).

    (4)Kebijakkan untuk menetapkan penciptaan Alam Semesta (dan tujuh langit) dalam dua Tahapan Besar (Fushshilat/Dijelaskan, 41:12)

    Qadhaa atau Kebijakkan yang telah lalu meliputi juga, keputusan seseorang dilahirkan oleh siapa, dimana, dan etnis, atau agama apa orang tuanya. Si A lahir di orang tua di Bali, pasti akan berbeda jika dia dilahirkan di China, Rusia, Arab atau Italia misalnya. Statistik menunjukkan, jika sesorang lahir di Bali, maka kemungkinan besar dia adalah orang Indonesia beragama Hindu, di China mungkin Budha atau Kong Hu cu, di Rusia mungkin atheis, di Arab mungkin Islam dan di Italia, besar kemungkinan beragama Kristen Katolik. Oleh karena itu sangat keliru, jika kita terjebak saling hujat, ejek-mengejek etnis atau agama seseorang, karena itu “as given” diberikan oleh Tuhan. Kita tidak meminta untuk dilahirkan di Lembah Balim Irian Barat, misalnya. Maaf, kulit hitam, rambut keriting, mungkin kepercayaannya masih anisme. Si B beragama Islam karena orang tua Muslim. Tetangga beragama Kristen karena orang tuanya Kristen, ada yang beragama Yahudi, Hindu atau Budha karena kebanyakan orang tuanya beragama demikian pula. Hanya 0,1 % orang memilih agamanya berbeda dengan orang tuanya. Artinya, secara tidak langsung, agama seseorang didunia adalah, kebijakkan Tuhan yang telah ditetapkan yang sangat bergantung pada agama apa orang tuanya.

    Jika kita menyadari hal diatas, maka pembaca tidak perlu “menyalahkan” seseorang karena beragama tertentu atau berbeda. Sebab 99,9 % manusia beragama karena mengikuti agama orang tuanya – dan kita tidak meminta untuk dilahirkan oleh orang tua tertentu. Dalam hal ini, ada yang menyebutnya qadhaa ada pula yang memahami sebagai taqdir mubram. Kesadaran ini akan membantu sifat yang lebih toleran terhadap keragaman etnis, agama, dan keyakinan.

    Tuhan YME membuat sistem yang disebut qadar dan taqdir, hukum alam. Model hukum masyarakat dan konsep nasib adalah bagian kecil dari sistem. Aturan umum, sistem dan peran aktif manusia akan menentukan nasib seseorang. Dalam ajaran Islam cukup jelas, bahwa seseorang masuk ke Surga atau Neraka, benar-benar karena perbuatannya “deed”, bukan karena yang lain-lain. Al Qur’an tidak mengenal konsep “predestiny” (nasib yang telah ditentukan sebelumnya). Oleh karena itu, ketika Iqbal berpendapat bahwa inti ajaran utama lainnya dari Kitab Mulia adalah “amal kebajikan” atau “deed” yang baik, saya dapat memahaminya.

    Dengan kata lain – menyangkut taqdir – hidup adalah memilih, berbuat, berusaha, dan hasilnya serahkan pada Tuhan Yang Kuasa, yang menetapkan sistem.

  15. zaeda said

    assalamualaikum wr,wb.
    maaf sebelumnya, saya setuju dengan pernyataan taqdir tidak bisa di ubah, tapi untuk apa ada surat al hajj ayat 70, jika semuanya telah diatur sedemikian detilnya, lalu bagaimana dengan orang yang telah di ciptakan Allah sebagai orang yang malas, bodoh, sampai akhir hayatnya dia berusaha toh.. akan begitu juga, bukankah Allah maha adil? kasian sekali jika saudara kita telah ditakdirkan hidupnya selalu dalam keadaan begitu, sementara itu (kita di larang bersu’uzhan terhadapNya, karena Zhan kita begitulah Dia), jadi kita ini hidup sebagaimana robot… lalu bagaiman dengan pernyataan usaha kita tidak akan jauh dari usaha kita.
    saya mohon penjelasannya mas,.. syukran jazila.

    • aricloud said

      Benar, pada saat orang malas, bukankah Allah SWT sudah mengetahui lebih dahulu bahwa orang itu pasti akan malas nantinya? sehingga Allah SWT menghendaki takdir tertentu karena kemalasannya.

      Semua telah diatur sedemikian detailnya. Aturan tersebut dibuat tentu berdasarkan pengetahuan Allah akan pilihan dan sikap yang akan diambil oleh Hamba-Nya. Bukankah Allah sudah mengetahui apa sikap dan pilihan kita besok? bulan depan? tahun depan? dan Allah sudah mengetahui sikap dan perasaaan Hamba-Nya jauh sebelum mereka diciptakan. Dari pengetahuan itulah ALlah SWT menetapkan takdir yang pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya.

  16. Anonim said

    jadi takdir tu gk bsa diubah yaa…
    tp bsa d pilih…..

  17. Rado Dzikri Yuono Putra said

    Aamiin……. mohon yg terbaik kpada Allah SWT . .

  18. Rado Dzikri Yuono Putra said

    Aamiin yaa Mujiib

  19. ibnu kahar said

    Apakah penjahat yang nantinya akan masuk neraka adalah takdir?apakah orang yang berzina juga takdir? Apakah kiai yang banyak santrinya juga takdir?. Kalau semua itu takdir pasti tidak akan mau seseorang nantinya ditakdirkan berzina!!yang nantinya akan membawa dirinya keneraka!!berarti konsep anda menjelaskan bahwa ALLAH TIDAK ADIL, Padahal allah sungguh maha adil……………..

    • aricloud said

      @Ibnu Kahar
      Mohon baca kembali postingan saya dengan seksama
      “Artinya adalah Allah SWT mendasari Kehendak-Nya juga atas dasar aksi-reaksi terhadap apa yang dikehendaki oleh manusia. Selain itu Allah SWT juga ”Maha Mengetahui”. Artinya, apapun yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh manusia di masa yang akan datang sebenarnya sudah diketahui oleh Allah SWT.”

      Jadi seseorang ditakdirkan masuk neraka karena ia melakukan hal-hal yang membuat ia ke neraka.
      Dan Allah SWT sudah mengetahui sebelum seseorang itu dilahirkan tentang apa yang akan ia kerjakan. Sehingga dengan Pengetahuan-Nya Allah SWT juga sudah mampu memutuskan takdirnya bahkan sebelum orang itu dilahirkan.

      • Ricky said

        @Aricloud
        Maaf gan, saya kurang setuju dgn argumen anda…

        Klo menurut saya, setelah Malaikat meniupkan roh ke dalam janin, Allah menetapkan 3 takdir kepada manusia, yaitu rezki, jodoh dan maut, itulah takdir Allah.

        Seperti yg anda katakan di atas,,, seseorang menjadi ahli surga atau ahli neraka adalah ketentuan/takdir ALLAH..
        Disini saya kurang sependapat dgn anda,, karena makhluk ciptaan Allah yg paling mulia dan di sayang Allah adalah manusia…. Misalnya seorang penjahat,, setelah Malaikat meniupkan roh ke dalam janin trus orang itu di takdirkan Allah menjadi penjahat,,, tidak mungkin rasanya makhluk yg paling mulia dan di sayang Allah trus ditakdirkan menjadi penjahat…

        Jadi kesimpulannya menurut saya, seseorang yg jadi ahli surga atau ahli neraka itu tergantung amalannya selama di dunia, orang itu sendiri yg akan menentukan,,, Allah hanya mengasih 2 jalan,,, jalan ke surga atau ke neraka…
        di dunia inilah manusia menentukan jalan/pilihannya itu,,, dengan jalan amal baik atau amal buruk…
        Jadi seseorang menjadi penjahat, pezina, ustad, ulama atau yg lain2, bukanlah takdir, Tapi tergantung orang itu sendiri, mau memilih jalan yg mana nya…

        Jadi menurut saya,,, takdir yg di tentukan Allah dan tidak dapat di ubah manusia ada 3, REZKI, JODOH dan MAUT

        Sekian dan terima kasih…
        Maaf klo argumen saya salah….

  20. Anonim said

    seng komentar goblok

  21. Ismail said

    Anggapan sprt itu masuk akal tapi jka ada yg brpndpt takdir itu bisa di rubah apkh salah ?

  22. Ismail said

    Hak sbgy manusia utk mengeluarkan pndpt, tp alangkah baiknya persoalan takdir manusia cukup meyakininya jgn trll di jadikan bahan argumen sbb akn sll muncul argumen2 yg baru dan tdk akn prnah slesai cukup wallahua’lam bissowab..

  23. mudin udin said

    ass… kadang sayah bingung dengan definisi ilmu. banyak murid yang lupa dngan gurunya karna ilmunya.ada orang yang sesat dengn ilmunya.tolong bantu saya untuk memberi penjelas. jazaa kumullah. sebelumnya.

  24. Novi Sweet said

    Assalamialaikum wr… wb..Kalau takdir gak bisa berubah dan sebagai suatu ketetapan Allah ya percuma juga kita beribadah karena takdirnya dah demikian. Umpamnya kita ditakdirkan jadi penghuni neraka. Percuma juga kita ibadah toh akhirnya neraka juga yang didapat. Begitu pula sebaliknya. Kalau menurut sebagian orang yang saya temui menyatakan bahwa takdir adalah suatu ketentuan Allah ta’alla dimana komposisinya sebagian mutlak dan sebagian berubah. Contoh Warna kulit kita itu mutlak tidak bisa dirubah, tetapi ukuran dan bentuk wajah kita berubah. mohon penjelasan agar kami yang bodoh dan miskin ilmu ini bisa mentelaah dan mengerti maksud hal tersebut. terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.

  25. […] […]

  26. Anonim said

    Saya rasa takdir seseorang dapat diubah , sedangkan takdir dunia yang mungkin dapat dikatakan sudah ditentukan. Ini bisa diumpamakan dengan sebuah jalan yang bercabang yang setiap cabang memiliki anak cabang dan akan berakhir di satu titik yaitu kematian. Jika memang takdir seseorang udah ditentukan pastinya jalannya hanya 1 dan tidak memiliki cabang hingga kematian datang. Bukankah itu hasilnya jika mempercayai bahwa takdir tidak dapat diubah. Sedangkan yang sebaliknya akan berusaha membuat takdir baru yang tidak menghentikan mereka dalam memilih jalan mereka ( dengan berdasarkan tuntunan dari sang pencipta). Bukankah itu tujuan kita diciptakan oleh-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: