Mencari Cinta-Nya

I have face it, life wasted, i am never going back again

Mengubah Takdir ? (Jilid 2)

Posted by aricloud pada September 12, 2007

lanjutan dari Bisakah Takdir Diubah? 

Setiap manusia dan seluruh kehidupan ini, sudah memiliki alur yang sempurna. Alur tersebut akan berjalan dengan sempurna hingga hari akhir nanti. Namun manusia itu sendiri tidak mengetahui bagaimana alur itu akan terjadi. Alur tersebut terbentuk karena Kehendak Allah SWT dan dengan Kehendak-Nya pula lah Allah berhak untuk memutuskan apakah kehendak manusia akan dijadikan pertimbangan dalam alur tersebut.
Allah SWT memberikan akal kepada manusia dan membakukan sunnatullah pada alam semesta agar manusia mampu berpikir. Oleh karena itu agar sunnatullah berjalan dengan sempurna, maka proses sebab akibat senantiasa diikutkan dalam setiap kehendak-Nya.
Sehingga kehendak Allah SWT terhadap manusia sebenarnya cerminan dari kehendak manusia itu sendiri. Hal ini adalah agar sunnatullah senantiasa terpelihara. Akan tetapi kehendak manusia hanyalah bersifat semu. Allah SWT hanya memperlihatkan kehendak mutlak-Nya pada mukzizat-mukzizat yang diberikan pada manusia.
Jika seseorang berkehendak untuk minum, maka seluruh anggota tubuhnya bergerak untuk melakukan “minum”. Allah mentakdirkan seluruh anggota tubuh orang itu untuk mengikuti kehendak orang tersebut. Jika seseorang berkehendak mengangkat tangan, maka dengan ijin Allah tangannya terangkat mengikuti kehendak orang itu, itulah sunnatullah. Kalaupun tiba-tiba tangan orang tersebut tidak bias digerakkan, maka proses tidak bisa bergerak itupun memiliki kaidah sebab akibat yang sangat detail yang juga sunnatullah.
Seseorang menuang air, maka air jatuh karena gravitasi bumi. Gravitasi bumi pun ada karena hukum sebab akibat lainnya, dst…
Tidak mungkin seseorang menuang air tiba-tiba airnya jatuh ke atas tanpa sebab akibat yang jelas, kecuali mukzizat yang dikaruniakan Allah pada sedikit hamba2-Nya. Semua hukum sebab akibat tersebut memiliki alur yang sangat kompleks namun jelas dan detail.
Demikian juga Takdir Allah.
Allah Maha Berkehendak pada hamba-Nya, namun Allah SWT juga Maha Adil atas kehendak hamba2-Nya. Kehendak Allah SWT tidak serta merta mematikan kehendak manusia.
Artinya, segala kehendak manusia yang telah terjadi, maka itu jugalah Kehendak Allah SWT. Namun kehendak manusia yang belum terjadi, maka belum tentu Allah SWT juga berkehendak demikian.
Sehingga jika seseorang berkehendak berjalan ke depan dalam kondisi normal, maka seluruh tubuhnya akan melakukan proses bergerak ke depan. Proses bergerak ke depan hanya berlangsung karena kehendak Allah SWT. Namun seseorang tidak bisa berdalih ”Saya bergerak ke depan karena disuruh Allah”. Kalaupun dia berkehendak bergerak ke depan, namun Allah berkehendak tubuhnya bergerak ke belakang, maka pasti Allah juga menciptakan sebab akibatnya, misalnya karena tidak normal, syaraf-syaraf orang itu sudah rusak.
Seluruh kehendak manusia hingga hari akhir, sudah diketahui oleh Allah SWT. Dan seluruh kejadian hingga hari akhir sudah diketahui dan diputuskan oleh Allah SWT.
Mengapa saya membedakan antara : 1. kehendak dan 2. kejadian ?
Hal inilah yang mendasari pengertian saya tentang kisah Nabi Khidir.

Mari kita coba simak :

QS Al Kahfi : 79-81 :

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. Dan adapun anak muda itu, Maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

Dalam surat Al Kahfi tersebut, sama sekali tidak diceritakan tentang ”Masa Depan”
Akan tetapi Cuma ”potensi kehendak”.
”.. Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera..”
Ayat ini tidak memberitakan masa depan, namun justru memberitakan kondisi saat itu, dan tindakan preventif nabi Khidir. Artinya, Allah SWT memang tidak pernah mentakdirkan bahtera itu akan dirampok. Tindakan nabi Khidir semata-mata untuk melengkapi sunnatullah dari alur takdir yang sudah direncanakan hingga hari kiamat.

Bagaimana jika nabi Khidir tidak membolongi perahu? Apakah bahtera itu akan dirampok? Nah, seperti yang sudah saya tulis dalam blog saya, pertanyaan ini juga tidak perlu ditanyakan, karena kasus pembolongan perahu oleh Nabi Khidir pun sudah menjadi Takdir dan bagian dari alur skenario Takdir Allah SWT. Jadi tidak mungkin nabi Khidir tidak membolongi perahu.

Demikian juga anak muda yang dibunuh nabi Khidir. Ayat tersebut tidak menjelaskan bahwa anak tersebut akan membuat orang tuanya sesat, namun hanya ”khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan”

Jadi hanya menjelaskan adanya ”potensi kehendak” dari anak kecil tersebut, bukan kejadian alternatif lain di masa depan yang diberitakan pada nabi Khidir.

Jika seseorang bunuh diri, maka memang demikianlah takdir orang itu. Dan orang itu memperoleh dosa akibat kehendak bunuh dirinya itu. Allah SWT berkehendak mutlak akan terjadinya bunuh diri tersebut karena Allah SWT juga sudah mengetahui bahwa orang tersebut akan bunuh diri.

Adapun orang yang tidak jadi bunuh diri, memang takdir orang itu tidak jadi bunuh diri.
Akan tetapi fakta yang sudah terjadi bahwa seseorang telah mati karena bunuh diri tidak bisa dipertanyakan lagi apakah jika dia tidak bunuh diri maka ia juga tetap akan mati dengan cara lain? Karena Takdir menjadi satu paket dengan sebab-akibatnya. Seseorang ditakdirkan mati pada suatu waktu juga disertai takdir sebab-akibatnya.

Allah SWT menciptakan takdir kematian, rezeki, dan sebab akibatnya karena didahului ke-Mahapengetahuan Allah akan kehendak manusia dan pilihan-pilihan yang akan dipilih manusia bahkan sebelum manusia itu diciptakan.
Artinya, Allah SWT lebih tahu terhadap kehendak kita besok (dimasa depan) dibandingkan kita sendiri.

Jadi, Takdir itu tidak bercabang, melainkan alur yang sudah memiliki kepastian. Tetapi adalah hak Allah SWT bahwa Alur takdir tesebut sudah dirancang dengan mempertimbangkan kehendak manusia yang sudah diketahui-Nya, sehingga manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Wallahu’alam bish showab.

Pembahasan takdir merupakan hal yang sangat rumit dan beresiko, akan tetapi yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita mencoba memahami iman kepada Takdir tanpa beresiko melanggar aqidah yang substantif. Selama pemahaman tersebut mengajak kita pada keimanan yang lebih tinggi. Mudah-mudahan Allah SWT ”dulu” telah menciptakan alur Takdir yang baik untuk kita karena keinginan dan kehendak kita ”saat ini” untuk berfastabiqul khairat. Amin

10 Tanggapan to “Mengubah Takdir ? (Jilid 2)”

  1. agorsiloku said

    alur sempurna dari satu “pilihan takdir”, potensi kehendak (kekuatan – ketetapan – ukuran). Rasanya kok kita berbahasa dalam jalur pemikiran yang sama.

  2. haniifa said

    “Menjelaskan relasi yang sempurna dari kesimbanngan pemilihan takdir baik dan buruk”
    Jilid 3nya mana mas kelamaan nunggu ??😀

  3. aricloud said

    @haniifa

    jilid 3 blom tahu nih mas mau dibikin atau nggak…
    belum ada tambahan ide🙂

  4. Aris subagyo Cahyono said

    Semuanya itu Hanya Pemikiran manusia saja dan penafsiran ,jadi belum bisa dipastikan kebenaranya,karena kebenaran yang khak hanya milik Alloh,boleh percaya dan boleh tidak,tapi saya juga kagum dan menghormati hasil dari agus mustofa,karena menambah pengetahuan walaupun belum tentu benar

  5. Ujang said

    Sederhana saja.

    takdir adalah pengetahuan sempurna Allah atas peristiwa yang dia ciptakan. takdir pasti tidak akan bisa berubah karena memang sudah ditetapkan secara sempurna. bagi manusia yang terpenting adalah bagaimana menunaikan apa yang menjadi kewajiban selama kita hidup didunia ini.

    salam.

  6. haniifa said

    Saya ingin mempostingkan, perjalanan Nabi Musa a.s dan Nabi Khidir a.s dalam kontek “Takdir”, tapi kok rasaya lebih tepat jika mas Ari saja, sebab berkaitan dengan QS Al Kahfi : 79-81 :
    Coba deh mas pelajari dulu :
    http://haniifa.wordpress.com/2008/05/01/mekah-sebagai-pusat-bumi-2/
    point of view:
    1. P. Madagaskar…. 79
    2. Tembok ratapan (Yerusalem) … 80

  7. ARIS SUBAGYO C said

    TAKDIR ketetapan dari Alloh,namun semua tersebut bisa dirubah tapi dgn kehendak dan ijin Alloh,klo kt beriman,bertakwa,dgn sungguh2 Alloh pasti menurunkan rohman rohkimnya kpd orang tersebut,jd klo kita mau bersungguh tiada mustahil baginya,

  8. Takdir itu seperti labirin maha besar, tiap detik hidup kita, kita dihadapkan pada percabangan yang tak hingga jumlahnya. Sering kali jalan terbaik untuk kita adalah jalan sempit dan susah dilewati. Takdir yang kita jalani adalah takdir yang kita pilih dari sekian banyak pilihan takdir yang disediakan oleh Allah untuk kita. Doa akan memberi keyakinan untuk memilih jalan yang benar, untuk memberi lentera pada rongga labirin yang terbaik untuk kita. Sayang sekali permainan rongga labirin itu tidak memiliki fitus “save state”, sehingga kita tidak bisa melangkah mundur. So, berhati-hatilah.

  9. burama said

    aslmkm wrb

    “Masyarakat Indonesia, pada umumnya , mengartikan takdir sebagai nasib. Bahkan sebagian besar Muslim menyikapi takdir sebagai alasan untuk tidak berbuat maksimal, kurang bertanggung jawab, dan tidak bersungguh-sungguh untuk mengupayakan sesuatu yang lebih baik dengan segenap pikiran dan tenaganya.”

    Klasifikasi: Sedang.
    Pengertian sederhana tentang takdir tetapi banyak disalah artikan, terutama bagi orang beragama, khususnya Islam.

    Intinya, kita semua memaknai takdir – karena pergeseran arti dalam bahasa Indonesia – sebagai sesuatu ketetapan yang berhubungan dengan nasib manusia, yang diberikan “begitu saja”, “as given”.

    Namun ternyata Kitab Mulia al Qur’an berkata lain tentang takdir.

    Struktur takdir berawal dari kata “ kadar”, dalam bahasa al Qur’an disebut “qadar” berasal dari tiga abjad QDR (Qaf, Dal, dan Ra) yang artinya dalam bahasa umum “kadar, atau ukuran”. Dari QDR muncul kata “Qadara” yang bermakna “ukuran, kadar, standar, pola, siklus, model” – dalam kata lain “Qaddara” berarti memberikan “ukuran, pola, standard” dan terakhir berhubungan dengan “taqdir” yang bermakna “sesuatu yang pas dengan ukuran, kadar, standard atau model tertentu”. Oleh karena itu, sesungguhnya takdir adalah suatu keadaan yang sesuai atau pas dengan standard alam yang berlaku.

    Arti umum Qadar dalam al Qur’an lebih banyak berhubungan dengan hukum alam, “nature”. Contohnya banyak sekali, siklus Bumi, Bulan dan Matahari, sirnanya bintang-bintang, siklus air hujan, siang dan malam, musim yang berganti dan sebagainya. “Tuhan telah menciptakan standard untuk segala sesuatu” (Qs, 65:3) atau “ Tuhan memerintahkan segala sesuatu untuk memenuhi pola (pattern) yang telah ditetapkan (Qs, 33:38). Dimana yang namanya “standard, pola, atau model” semuanya berhubungan dengan Hukum Alam dan sebagian berhubungan dengan pola hukum kemasyarakatan.

    Menyangkut obyek langit seperti peredaran bintang, Matahari, Bulan dan siklus angin – “qadar” adalah hukum alam (al Hijr, 15:21). Demikian juga “qadar” bisa berarti suatu siklus atau model kemasyarakatan, misalnya kehancuran suatu negeri (al Hijr/ Kaum Hijr, 15:4). Menentukan lamanya proses kehamilan bayi sebagai standard, siklus hujan, tahapan berdirinya gunung-gunung – semuanya – menurut al Qur’an adalah “qadar”. Sedangkan “taqdir” bagi alam semesta selain mewahyukan (memerintahkan) bagi setiap langit untuk mengatur urusannya masing-masing, sesuai “qadar”nya. Termasuk juga pemeliharaan yang sebaik-baiknya yang ditakdirkan bagi Tuhan itu sendiri (al Fushishilaat/ Menjelaskan, 41:12). Artinya Tuhan menakdirkan diri sendiri untuk “memelihara alam semesta sebaik-baiknya”. Sebab, alam semesta – jika tidak ada yang memelihara – sudah lama runtuh, sejak “kelahirannya”. (Harun Yahya, Mohamed Asadi – Paul Davies, ilmuwan).

    “Qadar” juga berarti suatu model atau pola hukum kemasyarakatan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Kuasa sebagai arahan atau petunjuk (al Ahzab/Sekutu, 33:38). Jika itu dilanggar, ada konsekuensi logis yang harus diterima, sebagai “takdir”. Model hukum kemasyarakatan disebut juga dengan “sunatullah”. Namun perlu dicatat, menurut Mohammad Iqbal – pemikir Islam yang terkenal – pengertian “sunatullah” di al Qur’an tidak berlaku bagi hukum alam di Jagad Raya ini. Ia hanya berlaku bagi model hukum kemayarakatan saja. Ini – yang biasanya tidak diketahui oleh masyarakat umum Muslim didunia.

    Contoh klasik yang sederhana tentang “qadar” dan “taqdir adalah sebagai berikut.

    “Qadar”nya manusia ditetapkan tidak memiliki sayap seperti burung, tetapi bukan berarti manusia ditakdirkan untuk tidak bisa terbang. Dengan ilmu pengetahuannya, manusia mampu ‘terbang”, bahkan jauh lebih cepat dan tinggi dari pada burung yang memilki sayap.

    Contoh ‘qadar’ dan ‘taqdir’ sehari-hari.

    Air yang berupa cairan diberikan qadar (kadarnya) bahwa diatas 100 derajat Cecius ia akan menguap menjadi gas (takdirnya berobah). Sedangkan jika didinginkan hingga mendekati temperatur 0 derajat Celcius (qadar), maka takdir air tersebut berobah menjadi es, berbentuk padat. Manusia dengan kemampuannya dia dapat memilih qadar air, dan merobah takdir air – bisa berupa cairan, gas atau berbentuk padat.

    Buah apel yang matang akan jatuh ke Bumi (takdir) tidak keluar angkasa, karena mengikuti hukum alam – gaya Gravitasi (qadar – ukuran), tetapi bila qadarnya berobah, takdirnyapun berobah.

    Hal yang penting diketahui, Tuhan telah memberikan takdir tak terhitung banyaknya di alam semesta ini, tetapi bukan takdir manusia. “Qadara” (ukuran, standard) tidak dapat dirobah, tetapi bagi manusia yang berilmu di dalam koridor kemampuannya, takdir dapat dipilih dan diupayakan.

    “Qadar” mengatakan jika kita kena air hujan akan basah kuyup. Tetapi takdir dapat dipilih, kita dapat memakai payung, jas hujan, mobil atau menunda dan mempercepat jadwal kepergian kita – sehingga kita tidak perlu kehujannan dan mejadi basah kuyup.

    Khusus bagi nasib manusia atau suatu bangsa, renungkanlah ayat berikut ini:

    “ Tuhan tidak akan merobah keadaan sesuatu kaum (bangsa, kelompok, suku) sehingga mereka merobah keadaan (nasib) yang ada pada mereka itu sendiri (Ar Ra’d/Guruh, 13:11).

  10. hamid polhaupessy said

    tapi kalau seseorang melakukan bunuh diri itu termasuk takdir tuhan…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: